Senin, 09 Mei 2011

Ramalan Prabu Siliwangi

Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau

sebelum menghilang :

“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia
padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian
susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan

nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi
Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh
perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas
jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”

Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan!
Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke
utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan
diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke
barat!

Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian!
dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain.
Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan
ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!

Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti,
keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke
saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik
hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar
suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil
oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti
telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!

Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang

kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan
menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai
kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi
tamu yang menyusahkan. Waspadalah!

Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan
saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah,

tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat;
apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk
mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti
tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah
lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan
wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya,
hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk
mereka yang berusaha menelusuri.


Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab
terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus
menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil
tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi
batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan
kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun
kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia
temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang

lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah.
setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.

Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara
waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang
kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule,

yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota . semenjak

itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita
hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba
dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.

Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan
ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu
semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak
yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman
sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh
mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!

Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara
pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang
terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit,

tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh

penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang
berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah
semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati
kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam
sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti
cerita lagi.

Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan
telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas
antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk.
Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan
teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan
caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi
bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih
dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang
mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa
dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah
orang sebrang.

Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan
penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas
keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi
jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di
siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara
kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan
keturunan Pajajaran.

Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh
dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran
ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan
buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan,
penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah. Sekalinya ada yang
berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang
yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli.
memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan

hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti
aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya

puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang

bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi
pintar kebelinger.

Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam
sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan
pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang
sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian.
Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka

mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka

sengaja membuat permusuhan.

Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab

takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta,

semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman
manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.
Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan
menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka.

Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan
waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara,
yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara.

yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin

oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya
ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka
hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.

Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan
kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu
menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka
mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu,

yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi
pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi
membuka lahan baru di Lebak Cawéné!

Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan
berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh
gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda
memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab
berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.

Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu.
Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.

Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!

Mangga lenyepaneun keur urang Sunda tur bangsa Indonesia sakumna!

Kamis, 20 Januari 2011

Sya'ir Surgawi

Nikmatnya keramaian dunia
Berselancar di atas gelombang masalah
Badai kian lama kian kuat
Mendera menghantam nurani

Walau sulit meniti pintu surga
Walau sulit mencari pintu neraka
Ekspektasi tetap tengadah
Rindu hati ke kampung halaman

bersama nenek moyang manusia
Adam dan Hawa

Kamis, 13 Januari 2011

Sya'ir Surgawi

Ketika sang wali bertutur
Telaga nampak menghempas dahaga
Al-Kautsar dipelupuk mata
Namun entah

Terhempas deburan dosa
Dalam penantian air mata

Tuhan maafkan aku

Kamis, 30 Desember 2010

NILAI UAS KPI

DAFTAR HADIR DAN NILAI UJIAN
Jurusan : KPI Mata Kuliah : PPKN
Semester : 1 Dosen : Drs. Yusuf Zaenal Abidin, M.M
Kelas : A, B, C Ast. Dosen : Rohmanur Aziz, S.Sos.I., M.Ag
Thn Ajaran : 2010/2011

NO NIM NILAI NO NIM NILAI NO NIM NILAI

1 1210402001 C 1 1210402032 B 1 1210402062 E
2 1210402002 T 2 1210402033 C 2 1210402063 B
3 1210402003 C 3 1210402034 D 3 1210402092 D
4 1210402004 T 4 1210402035 E 4 1210402064 C
5 206400037 C 5 1210402036 T 5 1210412065 C
6 1210402005 E 6 1210402037 C 6 1210402066 C
7 1210402006 D 7 1210402038 C 7 1210402067 E
8 1210402007 C 8 1210402039 B 8 1210402068 B
9 1210402008 C 9 1210402040 E 9 1210402069 C
10 1210402009 B 10 1210402041 C 10 1210402070 C
11 1210402010 D 11 1210402042 B 11 1210402071 T
12 1210402011 B 12 205.204.725 E 12 1210402072 C
13 1210402012 C 13 1210402043 E 13 1210402074 C
14 1210402013 C 14 1210402044 E 14 1210402075 D
15 1210402014 C 15 1210402045 T 15 1210402076 C
16 1210402015 C 16 1210402046 D 16 1210402077 C
17 1210402016 B 17 1210402047 C 17 1210402078 C
18 1210402017 C 18 1210402048 E 18 1210402079 C
19 1210402018 C 19 1210402049 E 19 1210402080 B
20 1210402019 C 20 1210402050 T 20 1210402081 A
21 1210402020 C 21 1210402051 C 21 1210402082 C
22 1210402021 C 22 1210402052 C 22 1210402083 C
23 1210402022 C 23 1210402053 B 23 1210402084 B
24 1210402023 C 24 1210402054 T 24 1210402085 C
25 1200402024 C 25 1210402055 T 25 1210402086 C
26 1200402025 C 26 1210402056 B 26 1210402087 C
27 1200402026 C 27 1210402057 C 27 1210402088 T
28 1200402027 B 28 1210402058 C 28 1210402089 A
29 1200402028 C 29 1210402059 D 29 1210402090 C
30 1200402029 C 30 1210402060 E 30 1210402091 C
31 1210402030 B 31 1210402061 A
32 1210402031 C

Keterangan: 1. T = Tunda karena ada nilai yang belum masuk.
2. Bagi yang akan memperbaiki nilai dapat membuat tugas terstruktur
yang original dan kaya akan referansi.
3. Tugas dikirim via e-mail: jahdanrois@yahoo.co.id sampai
tanggal 5 januari 2011.

Selasa, 28 Desember 2010

Post- Nasionalisme Dalam Piala AFF

Rohmanur Aziz

Suasana euphoria sepak bola tanah air tidak memudar oleh kekalahan timnas pada final piala AFF Leg ke-1 yang digelar pada 26 Desember 2010 di Stadion Bukit Jalil Malaysia, pada Leg ke-2 masyarakat Indonesia berharap dapat dimenangkan oleh Timnas dan situasi ini akan semakin membakar semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Hal ini diawali oleh gelora beberapa suporter club-club sepakbola daerah seperti Viking untuk Persib, Bonekmania untuk Persebaya dan Jackmania untuk Persija. Kekuatan ideologis sepakbola primordial tersebut ternyata menjadi bahan baku kristal ideologi sepakbola menjadi wajah baru nasionalisme atau post-nasionalisme.
Diperlukan tafsir yang tepat untuk membaca trend post-nasionalisme saat ini. Tentunya kondisi psikologis saat ini bukan kebetulan tetapi terkait dengan sejarah atau kondisi masa lalu yang menciptakan kondisi saat ini. Dilthey (1913) menyebutnya sebagai intelligibility historis atau kemasukakalan sejarah. Secara rinci dalam intuisi psikologis, Dilthey menemukan corak hermeneutika yang khas yaitu dengan menghubungkan sejarah dan kapasitas bawaan (primordial capacity).
Setidaknya ada tiga factor yang mendukung wujud post-nasionalisme yaitu; pertama, factor sejarah bangsa Indonesia yang haus kemerdekaan dan anti kolonialisme ditambah suplemen memori heroic dari para pahlawan nasional yang dikenal gigih dalam berjuang. Kedua, globalisasi telah membuka mata anak bangsa untuk melihat kemajuan negara dan bangsa lain sehingga terakumulasi menjadi kekecewaan yang mendalam dan memunculkan stereotyping bahwa Indonesia Negara yang selalu tertinggal dalam banyak hal. Ketiga, kerinduan yang mendalam akan impian bangsa Indonesia dapat mewujudkan cita bangsa sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 menjadi negara yang berdaulat adil dan makmur.
Sejarah Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (adistinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71
artikelnya itu tertulis: … the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl meman menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch- Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia”itu dari tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Post-Nasionalime Islami
Indonesia ditengarai memiliki potensi untuk bangkit menjadi negara maju. Hal ini ditandai dengan munculnya wacana masyarakat madani. Konsep madani merupakan penerjemahan istilah dari konsep civil society yang pertama kali digulirkan oleh Dato Seri Anwar Ibrahim dalam ceramahnya pada simposium Nasional dalam rangka Forum Ilmiah pada acara Festival Istiqlal, 26 September 1995 di Jakarta. Konsep yang diajukan oleh Sri Datuk Anwar Ibrahim ini hendak menunjukan bahwa masyarakat yang ideal adalah kelompok masyarakat yang memiliki peradaban maju.
Lebih lanjut Anwar Ibrahim menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah sistem sosial yang subur yang diasaskan pada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasab perorangan dengan kestabilan masyarakat. Dalam konteks dakwah Islam, civil society menjadi masyarakat madani dilatarbelakangi oleh konsep kota ilahi, kota peradaban atau masyarakat kota di Madinah al-Munawaroh yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw pada awal hijrah merubah nama Yastrib menjadi madinah. Prof. Naquib al-Attas menyebut konsep masyarakat madani dengan konsep al-Mujtama’ al-Madani. Dalam perspektif dakwah itu pula, Amrullah Ahmad (1985) menegaskan bahwa Dakwah Islam adalah: ”aktualisasi iman (teologi) yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mengetahui cara merasa, berfikir dan bertindak dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu.
Emha Ainun Najib merangsang wacana bangsa dengan pandangan bahwa dalam konteks rekonstruksi nasionalisme wajib berpijak dari kecerdasan profetik/ nubuwwah Muhammad Saw pada saat menyebarkan Islam dengan damai dan kasih sayang. Kebanggaan pada nasionalisme sebagai warga bangsa dari tatanan baru dari Yatsrib menjadi Madinah saat itu menjadi salah satu investasi untuk mewujudkan masyarakat yang berperadaban tinggi.
Peluang ini penting untuk dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia dengan mendorong dan memotivasi masyarakat untuk menumbuhkembangkan identitas nasional. Kecintaan pada tanah air yang dibuktikan dengan berbagai cara dan upaya untuk setiap anak bangsa mengukir sejarah dalam berbagai aspek kehidupan. Agar dahaga prestasi dan apresiasi yang selama ini kering kerontang dapat sirna oleh upaya kemandirian tidak mengandalkan belas kasihan dari bangsa lain. Selain sepak bola, banyak event lain yang dapat diapresiasi oleh pemerintah, masyarakat dan media. Semoga post-nasionalisme Indonesia dapat dimaknai sebagai perjuangan yang tidak mengenal mati terlebih hanya karena tidak menjadi juara pada piala AFF.

Senin, 27 Desember 2010

Syair Surgawi

Bayangan jiwa menatap langit
Mengangkat cita
Menggapai impian
Terbuai semerbak bunga surga

Selasa, 14 Desember 2010

Demokrasi (UTS KPI/1 A,B & C)

Secara harafiah: demos berarti rakyat dan kratos/cratein berarti kekuasaan, sehingga secara sederhana dapat dikatakan sebagai kekuasaan rakyat.
Pericles, negarawan Athena yg hidup pd tahun 430-an SM. Demokrasi mengandung beberapa kriteria penting: 1) pemerintahan oleh rakyat yang dibangun dari dukungan atau partisipasi rakyat yang mayoritas secara langsung. 2) kesamaan warga negara di depan hukum: penghargaan terhadap wilayah privat (pemenuhan HAM-dalam konteks kekinian) utk memenuhi dan mengekspresikan kepribadian individual serta pluralisme.
Runtuhnya otoritarianisme dan tegaknya demokrasi di portugal, Spanyol, Yunani dan kemudian pada awal dan pertengahan 1980-an di Peru, Bolivia, Argentina, Brazil, Filipina dan beberapa negara lain.
Runtuhnya Uni-Soviet dan beberapa negara komunis di Eropa Timur pd akhir tahun 1980-an
Tidak semata parpol yang dianggap mewakili masyarakat tetapi juga hadir aktor lainnya seperti non-governmental organizations (NGO’s), asosiasi-asosiasi sosial-kemasyarakatan, lembaga-lembaga lokal dsb. Lembaga2 tersebut dalam konteks kebaruan merupakan penguatan civil society yang dianggap memberi pengaruh terhadap berdirinya demokratisasi.
1. Bagaimana hubungan demokrasi dengan tujuan negara?
2. Sejauh mana ruang lingkup demokrasi?
3. Bagimana demokrasi menurut Islam (sebutkan ayat-ayat yang relevan)?
4. Bagaimana kasus DI Yogyakarta dalam konteks demokrasi?
(cukup satu halaman)
Silahkan sampaikan jawaban Anda ke: jahdanrois@yahoo.co.id !