Senin, 30 April 2012
Sistematika Pembuatan Laporan Praktik
Mata Kuliah Riset Aksi
Dalam laporan harus jelas dan dapat dipahami orang lain dengan mudah, laporan harus lengkap dan menarik, dengan mengemukakan semua permasalahan secara lengkap sehingga tidak terdapat hal-hal penting yang terlewatkan. Adapun kerangka minimal yang harus ada dalam laporan tersebut adalah;
a. Halaman Judul
Dibuat secara ringkas mencakup materi yang akan dilaporkan, misalnya
1) Topik laporan
2) Daftar nama kelompok yang melaporkan
3) Tahun laporan
b. Kata Pengantar
Kata-kata untuk membangkitkan perhatian pembaca terhadap laporan yang dibuat, selain itu berisi ucapan terima kasih dari pembuat laporan kepada yang berkepentingan serta pernyataan harapan akan manfaat laporan tersebut kepada pembacanya.
c. Daftar Isi
Daftar isi merupakan rekapitulasi dari semua bagian penting dari laporan, dengan membaca bagian ini, pembaca dengan cepat akan mengetahui isi laporan tersebut lengkap dengan halaman.
d. Pendahuluan
Umumnya terdiri dari tiga hal berikut;
1) Latar belakang yang berisi alas an pemilihan masalah dan manfaat yang ingin dicapai melalui pembuatan laporan tersebut.
2) Tujuan laporan yang umumnya sebagai berikut;
Menemukan masalah
Mengatasi masalah
Mengetahui perkembangan suatu masalah atau perusahaan
Menemukan cara atau teknik baru.
3) Metode yang berkaitan dengan cara-cara mendapatkan dan mengolah data laporan tersebut
e. Isi laporan
Isi laporan merupakan inti dari laporan yang disusun. Pada bagian ini dihadirkan table-tabel atau angka baik yang terjalin dalam teks maupun yang dilampirkan pada bagian akhir laporan.
f. Kesimpulan dan saran
Bagian ini menjadi hal yang penting karena kadang-kadang penerima laporan tidak membaca secara keseluruhan laporan dengan alasan keterbatasan waktu, akibat kesibukannya, atau alasan urgensitas tindakan yang harus segera diambi untuk memecahkan masalah tersebut. Untuk bagian kesimpulan dan saran harus berisi uraian ringkas, jelas dan padat tentang latar belakang masalah, masalah, alternative pemecahan masalah yang ditawarkan pembuat laporan.
g. Bagian pelengkap/ Lampiran
Umumnya, sebuah laporan disertai bagian pelengkap yang berisi antara lain lampiran profil, surat tugas, foto, dan peta untuk menguatkan hal-hal yang diuraikan dalam bagian pendahulu.
2. Teknik Pengumpulan tugas
a. Print Out laporan dipersiapkan untuk bahan seminar
b. Soft copy laporan dikirim ke e-mail : jahdanrois@yahoo.co.id paling lambat sehari sebelum seminar.
c. Nilai dapat dilihat seminggu setelah seminar di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam atau di SIMDAK Fakultas Dakwah dan Komunikasi
3. Ketentuan Seminar
a. Bahan presentasi dibuat dalam format power point
b. Masing-masing presenter memaparkan materi 15 menit
c. Masing-masing kelompok peserta seminar diberikan kesempatan satu kali pertanyaan
Dibuatkan rekam proses seminar oleh perwakilan setiap pemateri termasuk berita acara dan daftar hadir!
Selamat menghayati menjadi faskel!
MEMBUANG KEBURUKAN
Di daerah Bandung Timur, ada fenomena menarik, yaitu kebiasaan membuang bangkai tikus atau ular ke jalanan. Entah mulai kapan kebiasaan itu dimulai. Pada mulanya para pengguna jalan raya berbaik sangka, kemungkinan tikus dan ular yang dimalam hari melintas ke jalan raya kemudian tertabrak mobil atau motor. Jika diamati secara seksama ternyata fenomena itu juga terjadi di jalan kecamatan, jalan lingkungan bahkan di gang kecil. Secara logika, tidak mungkin ada warga yang berani dan tega mengotori lingkungannya sendiri dengan cara membuang bangkai binatang ke jalanan. Kini ada fenomena yang lebih dahsyat lagi, bukan hanya bangkai tikus dan ular tetapi onggokan-onggokan sampah yang terserak di jalan raya. Mulanya, sayapun berprasangka baik mungkin onggokan-onggokan yang sudah memipih itu bukan sampah tapi belanjaan jatuh dari orang pasar yang pulang belanja, namun setiap hari lewat ternyata semakin sering melihat onggokan-onggokan sampah di jalanan yang sudah pipih tergilas mobil. Logika sehatpun tidak bisa mencerna, jika setiap hari ada orang yang jatuh belanjaannya di jalan raya dan tergilas mobil hingga pipih berantakan.
Ada beberapa kemungkinan kenapa masyarakat tidak mengubur bangkai ular tikus dan sampah atau paling tidak membuang pada tempatnya yang tepatnya. Pertama, dimungkinkan tidak tersedianya fasilitas untuk mengubur bangkai dan membuang sampah karena program betonisasi yang marak dilakukan masyarakat, bahkan kini menjadi program pemerintah dengan betonisasi jalan raya, jalan kecamatan, jalan lingkungan hingga jalan gang. Masyarakatpun mulai alergi dengan rumput yang tubuh dihalaman rumah dan akhirnya dilakukan betonisasi agar mengakhiri atau paling tidak meminimalisir kerja bakti. Kedua, dmungkinkan masyarakat memang bingung tidak tahu tempat yang tepat untuk membuang bangkai dan sampah hingga akhirnya dicampakkan di sungai atau di jalanan. Ketiga, bangkai dan sampah menjadi simbol keburukan bagi masyarakat sehingga dianggap pantas untuk dicampakkan di jalanan dan diinjak-injak manusia dan dan dilindas kendaraan bermotor. Ular dijadikan dimaknai sebagai simbol kemunafikan karena tidak istiqomah dalam pendirian karena cara jalannya yang meliuk-liuk, kadang corak badannya menarik perhatian, eksotis dan erotis tapi berbahaya karena memiliki bisa yang kebanyakan mematikan. Tikus dimaknai sebagai binatang pengerat yang rakus walaupun sesungguhnya dia tidak menikmati karena tubuhnya tidak pernah tumbuh segemuk kelinci, kambing atau gajah tapi dia makan dan merusak apapun yang didapati sehingga makhluk lain terutama manusia gemas pada tikus yang sukanya berbuat kerusakan (fasad). Sementara sampah dimaknai sebagai simbol barang yang tidak berguna, tidak memberikan manfaat dan kalaupun ada manfaat tentu harganya tidak dapat lebih dari yang bukan sampah.
Ini artinya, tidak mungkin jika sesuatu yang dicampakan dijalanan itu sesuatu yang baik. Dapat dipastikan bahwa bangkai ular, tikus ataupun sampah adalah sesuatu yang buruk sehingga dipandang tepat jika dicampakkan di jalan tergilas oleh kendaraan bermotor. Walaupun mungkin dalam pandangan yang lebih bijak, bukan berarti ular, tikus dan sampah tidak ada gunanya yang jelas dalam konteks ini kebanyakan orang tidak suka pada ular, tikus dan sampah apalagi sudah menjadi bangkai atau membusuk. Lain halnya perlakuan para pengguna jalan pada bangkai kucing atau anjing, dapat dipastikan
Pada hakikatnya, fenomena sosial tersebut adalah proses kebencian universal manusia terhadap sifat-sifat dan karakter buruk manusia lain disekitarnya yang kini seringkali berulah, menjengkelkan, menggemaskan, merusak dan eksistensinya tidak memberikan kemanfaatan pada masyarakat lainnya. Padahal 14 abad silam, Nabi SAW menyampaikan pesan kepada umatnya bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya (khoir al-naas ‘anfauuhum li al-naas).
Penulis: Rohmanur Aziz
Kamis, 26 April 2012
Wajib Baca !
Sukses Menaklukan Birokrat Korup
Sumber: Rabu, 25 April 2012, 10:17 WIB
Republika/Musiron
Ini adalah pengalaman asli yang saya alami ketika liburan semester empat lalu. Ini semua diawali dari perampokan di kosan. Selain itu, kehilangan kartu identitas seperti KTP dan KTM adalah petaka karena harus menghadapi birokrasi yang rumit dan korup.
Setelah kehilangan berbagai kartu penting, akhirnya mau gak mau saya harus mengurus ulang KTP. Kebetulan saat itu benar-benar lagi kanker alias bokek. Saat itu cuma punya uang 50 ribu. Merasa sangat perlu akan KTP tersebut, akhirnya langkah pertama adalah mengurus surat keterangan hilang dari kepolisian.
Awalnya, sebelum berangkat sudah diniatkan untuk ngga akan memberi uang ‘rokok’ bagi polisi. Selain karena bokek, memang saya ngga mau lihat kewibawaan Tribarata jatuh seharga uang rokok. Tapi, pas saya abis jelasin dan surat sudah diserahkan, saat berniat beranjak sembari pergi, si Polisi itu bilang, “Mas, uang administrasinya,” dengan wajah masam. Huh, gondok saya. Sudah kena musibah, harus bayar pula. Saya males untuk adu mulut sama dia. Saya kasih aja uang 20 ribu.
Setelah surat kehilangan jadi, saya minta surat pengantar dari RT. Kebetulan, karena RT itu masih paman, saya nggak perlu ngasih uang rokok dan dia pun ngga nagih. Begitu pula pas ke rumah RW, dimana bapak masih merupakan kenalan.
Eh, ngga tahunya, pas di kelurahan, saya diminta uang 15 ribu, cuma buat selembar kertas yang itu merupakan hak saya sebagai warga negara untuk dilayani. Dengan berat hati saya beri uang 15 ribu. Sambil saya sumpahin yang makan duit itu mules ngga sembuh-sembuh.
Dengan lunglai, saya pergi ke kecamatan. Bisa dibayangin, kalau di kelurahan aja udah dipinta 15 ribu, berapa yang harus saya bayar buat kecamatan. Dan yang paling jengkel, duit saya tinggal 15 ribu lagi. Dengan tabah saya harus menjalani kehidupan sebagai warga negara di negeri para PNS dan pegawainya yang korup.
Saya pun mulai beranjak ke kecamatan, saya ngantri sambil nunggu giliran. Pas nama saya dipanggil, saya duduk sebentar untuk dikonfirmasi dan foto. Ketika mau di foto, eh, petugas tadi bilang, “Seikhlasnya, dek.” “Woi, seikhlasnya muke lu bopak!” ujar saya dalam hati. Dengan menahan gemuruh di dada, akhirnya saya kasih uang 10 ribu buat dia. Dengan wajah penuh kesedihan, saya pun difoto. Mereka bilang, seminggu lagi KTP-nya jadi.
Sembari meninggalkan kantor kecamatan, dalam hati dan sejujurnya saya ingin teriakan “JIHAD MELAWAN BIROKRAT KORUP!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Tapi takut juga kalau saya teriak-teriak deket puskesmas, bisa ditimpukin sandal. Dan akhirnya saya urungkan untuk teriak.
Dengan uang sisa 5 ribu perak, saya langsung pergi ke warnet. Di sana saya berniat untuk melaporkan mereka ke KPK. Pas di depan komputer, tiba-tiba misi saya ngeblur. Notification Facebook menggoda saya, tak terasa saya ketawa-ketiwi sambil chat. Pas billing udah nunjukin angka 3 ribu, saya bak ditampar CPU. Saya harus kembali ke misi awal untuk melaporkan oknum tersebut.
Saya langsung inget, saya buka aja website kota Tangerang. Kalo Anda orang Tangerang, pasti tahulah website www.kotatangerang.go.id . Di sana saya ngisi kolom pengaduan. Saya curhatin segala derita dan nestapa saya. Berharap yang baca akan ikut sedih dan nangis. Kalau bisa juga kasihan sama saya yang lagi bokek dan mau transfer uang. Tapi, gak mungkin juga kali.
Setelah selesai di website kota Tangerang, saya ngga puas. Saya khawatir suara saya nggak dibaca. Jangan-jangan cuma jadi spam dan raib ngga pernah terbaca. Akhirnya saya googling dan nemuin website Ombudsman. Tahu Komisi Ombudsman? Saya terinspirasi untuk menghapal namanya karena iklannya juga sama kayak kejadian yang saya alami. Iklannya ngasih tahu, JIKA ANDA DIPERSULIT MEMBUAT KTP, LAPOR OMBUDSMAN. Nah, saya isi tuh form pengaduan OMBUDSMAN.
Esok harinya, jam 4 sore, saya lagi ngepel di rumah. Pas sedang asyik bersenandung, tiba-tiba datang seseorang menanyakan rumah bapak saya. Betapa terkesimanya saya setelah tahu kalau saya yang dicari. Awalnya orang yang kurus dan sudah separuh baya. Tapi yang bikin saya ngeper pas orang kedua yang badannya gemuk dan salaman keras sambil ngomong, “Ini Zaeni?” Oh my God! Saya bakal digebukin sampai jadi cuanki nih. ”Zaeni yang laporan ke orang pemkot ya?” tanyanya lagi. Dengan wajah gugup, saya bilang, “Iya, pak.”
Tak beberapa lama, orang ketiga dengan perawakan gemuk datang. Sama seperti orang yang kedua, ia menanyakan nama dan kebenaran laporan yang saya buat. Akhirnya, secara jujur saya ceritakan kenapa saya berbuat demikian. Lama kelamaan ternyata dia yang menunduk malu. Dengan hati yang mulai pede, saya ceramahin dia dengan lancar. “Pak, malu dong. Katanya Kota Tangerang berakhlakul karimah, masa birokratnya masih korup,” kata saya dengan bangga.
Dia beralasan kalau uang itu digunakan para pegawai honorer. Dia juga minta, kalau ada permasalah yang terjadi di Kelurahan tidak perlu harus diceritakan pada atasan orang pemkot, laporkan saja sama dia.
Akhirnya sebelum pergi, dia menanyakan apa yang saya mau untuk mengubah semua. Akhirnya, saya bilang. “Pak, Rasulullah melaknat bagi siapa pun yang memberi dan menerima suap. Kalau memang ada biaya yang harus dibayar, tulis secara jelas berapa yang harus dibayar dan berikan tanda bukti pembayaran. Kalau memang gratis, ya gratis.” Dia pun mengangguk. Sebelum pergi, dia menanyakan berapa uang yang telah terpakai untuk membuat KTP. Saya bilang aja, 25 ribu. Dia pun mengganti uang saya yang 25 ribu. Yeah, Alhamdulillah ya!
Akhirnya saya yakin, jika kita selalu diam, bukan berarti kita tidak bersalah. Justru kita telah ikut menyuburkan praktek korupsi di negeri kita. Mungkin memang kita sanggup memberi uang rokok. Tapi, bagaimana kalau oknum itu meminta uang pada orang miskin? Dengan sedikit keberanian, kita bisa mengubah semuanya. Bukankah kita adalah umat terbaik yang menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemungkaran?
ZN
Ciputat
Minggu, 11 Maret 2012
Sejarah Ilmu Kalam
Sejarah Asal Usul Aliran Kalam/Teologi Islam
Ditulis oleh Mujtahid
Kamis, 03 November 2011 16:20
LAHIRNYA aliran teologi Islam adalah reaksi dari skisme (perpecahan) politik umat Islam. Tragedi skisme itu terabadikan dalam sebuah ungkapan "al-fitnah al-kubra". Proses skisme itu berawal dari terbunuhnya Usman Ibn Affan, yang pada akhirnya berimplikasi serupa terhadap khalifah keempat yakni Ali ibn Abi Thalib. Ketika kedua khalifah tersebut terbunuh, wacana kemelut politik lalu berkembang menjadi wacana agama (teologi).
Dalam tradisi Islam, penggunaan istilah "teologi" agaknya kurang mengakar, bahkan sebagian kalangan memandang kurang tepat, dibandingkan dengan istilah kalam. Secara etimologis, kalam berasal dari bahasa Arab, yang berarti kata-kata. Artinya, kalam adalah sabda Tuhan, yang pernah menimbulkan pertentangan-pertentangan keras dikalangan umat Islam abad IX-X masehi, yang mendorong timbulnya pertikaian sesama umat Muslim. Istilah kalam juga bermakna ‘kata-kata manusia'. Karena dengan kalam (kata-kata), manusia bisa bersilat lidah dalam mempertahankan argumen-argumennya. Meski demikian, kata "teologi" akhirnya dapat diterima dalam bidang kajian Islam.
Ada sebuah buku terkenal yang menjadi rujukan utama para pemikir intelektual muslim, yaitu al-Milal wa al-Nihal. Karya tersebut ditulis al-Syahrastani yang berbicara tentang sejarah teologi secara komprehensif dan sejumlah aliran-aliran teologi Islam, mulai dari pertumbuhan, perkembangan dan titik kulminasi kemajuannya. Aliran-aliran yang terungkap, tidak saja terbatas pada aliran yang masih eksis (hidup), tetapi juga non-eksis (telah meninggal). Tak kurang dari enam aliran, serta cabang-cabangnya terkupas tuntas oleh al-Syahrastani dalam kitab tersebut.
Pembicaraan tentang teologi adalah pembicaraan yang mendasar. Berbeda dengan fiqh, teologi merupakan bahasan seputar aspek ushul (pokok atau pondasi agama). Sementara fiqh, tinjauannya cenderung masalah furu' (cabang atau ranting). Sudah barang tentu kajian teologi adalah menyangkut pembahasan soal ke-Tuhanan, soal iman-kafir, siapa yang sebenarnya Muslim dan masih tetap dalam Islam, dan siapa yang sebenarnya kafir dan telah keluar dari Islam. Selain itu, pembahasan juga diarahkan mengenai posisi orang Muslim yang mengerjakan hal-hal yang haram dan mengenai orang kafir yang mengerjakan hal-hal yang baik.
Karakteristik masalah di atas pada akhirnya melahirkan sebuah perdebatan teologis. Aliran Khawarij misalnya,-kelompok yang memisahkan diri (seceders) dari barisan Ali ibn Abi Thalib, - menuding bahwa Ali ibn Abi Thalib dan Mu'awiyah beserta pengikut-pengikutnya, adalah kafir, sebab telah berbuat salah dan dosa besar. Alasannya, karena mereka tidak memutuskan perkara (persekutuan, peperangan) dengan hukum Allah.
Tak lama kemudian, lahirlah aliran Murji'ah. Sebuah aliran "moderat" yang berusaha memandang bahwa orang yang melakukan dosa besar tetap mukmin, karena penentuan dosa besar atau tidak, hanyalah hak prerogatif Tuhan. Dengan demikian, soal telah kafir atau tetap mukmin adalah urusan Tuhan, bukan urusan manusia. Sesuai dengan akar katanya ‘raja-yarju', artinya menunda atau menangguhkan. Yaitu menangguhkan keputusan tersebut sampai hari akhir, dan Tuhan sebagai hakim di kemudian hari kelak yang akan menentukan perkara tersebut .
Masih mengenai persoalan di atas, akhirnya muncul lagi aliran ketiga yakni Mu'tazilah. Sebuah aliran ‘rasionalis' yang berpandangan bahwa orang yang berbuat dosa besar ditempatkan pada posisi "netral" yaitu posisi antara kafir dan mukmin atau tidak kafir tapi juga tidak mukmin. Dalam ajaran Mu'tazilah posisi netral itu disebut al-manzilah bain al-manzilatain (posisi di antara dua posisi). Seseorang tidak boleh menganggap bahwa keburukan dan ketidakadilan, tidak beriman atau dosa itu berasal dari Tuhan, sebab sekiranya Dia (Tuhan) menciptakan ketidakadilan, maka Dia menjadi tidak adil.
Mu'tazilah juga punya paham al-wa'd wa al-wa'id (janji dan ancaman), bahwa Tuhan pasti akan memenuhi janji dan ancamannya di hari akhir. Selain itu, ada paham al-Adl (keadilan), al-Tauhid (ke-Maha Esaan Tuhan), dan al-‘Amr bi al-Ma'ruf wa Nahy ‘an Munkar (perintah melakukan kebajikan dan larangan menjauhi kejelekan).
Namun, paham yang dikemukakan Mu'tazilah, akhirnya ditentang oleh pengikut aliran Asy'ariah. Aliran Asy'ariah berpaham bahwa perbuatan manusia merupakan ciptaan Tuhan, paham ini disebut al-kasb. Dalam mewujudkan perbuatan yang diciptakan itu, daya yang ada dalam diri manusia tidak punya pengaruh atau efek. Asy'ariyah juga menolak paham Mu'atazilah tentang al-wa'd wa al-wa'id (janji dan ancaman), keadilan Tuhan (al-‘Adl). Lebih-lebih terhadap paham Mu'tazilah tentang ‘posisi netral' (al-manzilah bain al-manzilatain).
Tak pelak lagi, lahirlah dua aliran "raksasa" yang termashur sampai saat ini menjadi pisau analisis, yaitu Qadariah dan Jabariah. Dua aliran yang masing-masing pandangannya selalu bertolak belakang secara diametral. Qadariyah memandang bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluq yang punya kemerdekaan dalam kehendak (free will) dan perbuatannya (free act). Sebaliknya, Jabariah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kehendak, dan segala tingkah lakunya merupakan paksaan dari Tuhan, sehingga pahamnya dikenal predestination atau fatalism.
Pada bagian akhir dari ulasan buku tersebut di atas, ditutup dengan menghadirkan aliran Syi'ah. Aliran ini adalah pengikut setia Ali ibn Abi Thalib. Paham-paham doktrinnya banyak berbicara mengenai masalah politik. Soal Khilafah dan Imamah misalnya, bahwa seorang pemimpin itu harus terbebas atau terjaga dari perbuatan dosa (ma'shum), dan harus memiliki garis keturunan Ali.
Secara garis besarnya, aliran Syi'ah dapat dipetakan menjadi lima golongan, yaitu Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, Ghulat, dan Ismailiyah. Dari kelima golongan tersebut, sebagian berpaham Mu'tazilah, sebagian lagi berpaham ortodoks, yang sebagian yang lain berpaham antropomorfisme (tasybiyah).
Sebagai khazanah pemikiran Islam, apa yang diterangkan al-Syahrastani memang sangat penting sebagai bahan diskusi dan perbincangan secara mendalam, khususnya bagi peminat pemikiran teologi Islam. Dan sampai saat ini, studi tentang teologi Islam hampir semuanya merujuk pada pendapat-pendapatnya.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
Minggu, 05 Februari 2012
SILABUS PPKN
KDA 0009 PPKN 2 (1-1)
Mata kuliah ini secara khusus mempelajari tentang prinsip-prinsip kewarganegaraan. Dalam kajiannya menekankan pada pembahasan tentang hak dan kewajiban warganegara. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa agar ia dapat mengem-bangkan dirinya menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, ber-tanggung jawab, dan berkeadaban (smart and good citizens). Oleh karena itu dalam perkuliahannya secara programatik dikembangkan civic intelligence (kecerdasan warganegara) yang meliputi tiga hal; civic knowledge (pengetahuan kewargaan), civic skills (keterampilan kewargaan), dan civic dispositions (sikap kewargaan), serta difasilitasi terjadinya civic participation (partisipasi kewargaan) melalui berbagai interaksi pembelajaran yang bersifat partisipatif, kajian individual dan kelompok, diakhiri dengan evaluasi yang berlandaskan pada penguasaan seluruh kompetensi kewargaan secara proporsional.
Untuk mencapai tujuan tersebut topik inti mata kuliah ini meliputi: konsep identitas nasional (national identity), negara dan kewarganegaraan, konstitusi, pemerintahan dan hubungan sipil-militer, hubungan agama dan negara, civil society, demokrasi, dan hak asasi manusia (HAM).
Rujukan Dasar:
1. Arief Budiman. State and Civil Society;
2. Ali Abdul Razik, Khalifah dan Pemerintahan dalam Islam, Pustaka, Bandung, 1985.
3. Bachtiar Effendi. Islam dan Negara;
4. Baharudin Lopa. Alqur’an dan Hak Asasi Manusia.
5. Craig Calhoun (Ed.). Social Theory and The Politics of Identity;
6. C.S.T. Kansil. Sistem Pemerintahan Indonesia;
7. Charle L. Coehran. Civil-Military Relations;
8. Endang SA, Piagam Jakarta, GIP, Jakarta, 1997.
9. F. Magnis Suseno. Mencari Sosok Demokrasi; Sebuah Telaah Filosofis;
10. Kaelan (ed), Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi, Paradigma, Yogyakarta, 2002
11. Khairan, dkk. Pendidikan Politik bagi Warganegara;
12. Kansil, Hukum Kewarganegaraan RI, Sinar Grafika, Jakarta, 1992.
13. Ibnu Taimiyah, Kebijaksanaan Politik Nabi SAW, Dunia Ilmu, Surabaya, 1997.
14. IIC UIN Jakarta, Pendidikan Kewarganegaraan Demokrasi dan HAM Masyarakat Madani, Preneda Media, Jakarta, 2003.
15. Mustafa Kemal Fasha, Pendidikan Kewarganegaraan, Citra Mandiri Yogyakarta, 2002
16. Muhammad Amin, Konsep Masyarakat Islam, Fikahati Aneska, Jakarta, 1992.
17. M.Tahir Azhari, Negara Hukum, Bulan Bintang, Jakarta, 1992.
18. TIM Dosen UGM, Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi, Paradigma, Yogyakarta, 2002.
19. Winarno, Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan, Bumi Aksara, Surakarta, 2007.
Riset Aksi
KU 20437 Riset Aksi 2 (1-1)
Mata kuliah ini merupakan bagian dan teknologi pengembangan masyarakat. la bersama mata kullah penelitian dakwah, memberikan arahan bagaimana, teori teori, pendekatan dan model model penelitian sebagaii bagian kegiatan pengembangan masyarakat dilakukan.
Tujuan: tujuan utama pembelajaran mata kuliah ini adalah agarmahasiswa dapat memahami dan menguasai teknik teknik riset aksisebagai salah satu metode pendekatan pemberdayaan masyarakat serta mampu mengaplikasikannya dalam kegiatan pengembangan masyarakat.
Pokok Bahasan: Untuk mencapai tujuan di atas, topik inti yang dikembangkan dalam mata kultah ini meliputi: pengertian, tujuan, sasaran dan objek riset aksi, prinsip pinsip riset aksi, teknik teknik riset aksi, pendekatan pendekatan riset aksi, riiset aksi dan proses belajar sosial, riset aksi dan dinamika kelompok, riset aksi dan partisipasi sosial, riset aksi dan pengambangan masyarakat, tahapan¬-tahapan riset aksi dan implementasi riset aksi dalam kegiatan pengembangan masyarakat Islam.
Referensi:
1. Stephen Kemmis and Robin Taggart, The Action Research Planner.
2. James L Morrison, et. Al. Futwes and The Strategic Planning Process
Implications for Higer Education.
3. Yusuf Kassarn, ed. Riset Partisipasi Riset Alternatif.
4. Studio Driya Media untuk Konsorsium Pengembangan Dataran
Tinggi NTT, Berbuat Bersama Berperan Setara Pengkajian dan Perencanaan
Program Bersama Masyarakat.
5. Zaenal Mukarom, Pengantar Metode Riset Aksi.
Silabus Sosiologi Dakwah
KP 20107 Sosiologi Dakwah 2 (2-0)
Mata kuliah ini membahas teori-teori sosial Islam tentang dakwah. Ia mencakup kajian sosial tentang masyarakat dan teori-teori yang terlahir dari kajian itu. Ia juga membahas hasil-hasil kajian kemasyarakatan yang dilakukan oleh umat Islam sendiri tentang dakwah Islam.
Tujuan mata kuliah ini adalah untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa dalam memahami beragam kajian sosial dakwah Islam dan teori-teori yang terbangun darinya. Indikator yang dikembangkanya meliputi: (1) kemampuan menjelaskan berbagai kajian sosial dakwah Islam dengan pendekatannya yang unik dan teori sosial dakwah yang sudah berkembang dan (2) kemampuan menjelaskan situasi dan kondisi masyarakat dakwah dari perspektif teori-teori sosial khas Islam.Status: mata kuliah ini menjadi landasan dan dasar-pijak bagi mata kuliah kedakwahan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
Topik inti: pengertian sosiologi dakwah, sejarah perkembangan sosiologi dakwah, para sosiolog Islam, pendekatan sosiologi dakwah, wilayah kajian sosiologi dakwah, karakteristik masyarakat dakwah perkotaan, masyarakat dakwah pedesaan, masyarakat dakwah masyarakat transisi, masyarakat dakwah pedesaan, masyarakat dakwah pedesaan, masyarakat dakwah pesisir, organisasi dakwah Islam, dan perubahan sosial dalam kerangka dakwah.
Referensi:
1. Bryan S. Turner. 1994. Sosiologi Islam: Suatu Telaah Analitis atas Tesa Sosiologi Weber. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
2. Carolyn Fluehr-Lobban. 1994. Islamic Society in Practice. Florida: University of Florida Press.
3. Ernest Gellner. 1994. Membangun Masyarakat Sipil: Prasyarat menuju Kebebasan. Bandung: Penerbit Mizan.
4. Gerard O’Donnel. 1988. Mastering Sociology. London: The Macmillan Press Ltd.
5. Margaret M. Poloma. 1994. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
6. Peter Worsly. 1979. Modern Sociology. London: Hazell Watson & Viney Ltd.
7. Steven Sago. 1989. Social Change. London: Prentice-Hall Ltd.
8. Wardi Bachtiar, 2005, Sosiologi Klasik. Rosda Karya.
Langganan:
Postingan (Atom)